Peranan Budaya Hindu-Budha, Islam dan Moderen di Indonesia
1.Hindu-Budha
Teori Masuk dan Berkembangnya Kebudayaan
Hindu-Budha di Indonesia
Letak geografis kepulauan Indonesia
telah menjadikan kepulauan Indonesia sebagai jalur perdagangan Internasional.
Kepulauan Indonesia menjadi daerah transit ( pemberhentian ) sebelum
melanjutkan ke kedua bagian negara tersebut. Orang-orang Indonesia ternyata
ikut aktif juga dalam perdagangan tersebut sehingga terjadilah kontak hubungan
di antara keduanya (Indonesia - India dan Indonesia -Cina ). Hubungan itu
akhirnya memberikan pengaruh terhadap perkembangan masyarakat Indonesia
selanjutnya.
Menurut sejarawan Van Lew dan Wotters, hubungan dagangan
antara Indonesia dan India lebih dahulu berkembang dari pada hubungan
dagang antara Indonesia dan Cina. Namun, sumber sejarah untuk mengungkapkannya
sangat terbatas, yaitu melalui kitab-kitab sastra dan sumber-sumber dari barat.
Berdasarkan hal tersebut selanjutnya muncul beberapa teori mengenai proses
masuknya budaya Hindu-budha di indonesia.
A. Teori Kolonisasi
Teori ini berusaha menjelaskan proses
masuk dan berkembangnnya agama dari kebudayaan
Hindu-Buddha di indonesia dengan menekankan pada
peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan pengaruhnnya di Indonesia.
Berdasarkan teori ini, orang Indonesiasendiri sangat pasif, artinya mereka
hanya menjadi objek penerima pengaruh kebudayaan India tersebut. Teori
kolonisasiini terbagi dalam beberapa Hipotesis, yaitu sebagai berikut.
a. Hipotessis Waisya
N.J. Krom menyebutkan bahwa proses masuknya kebudayan Hindu-Budha melalui
hubungandagang antara India dan Indonesia. Para pedagang India yang berdagang
di Indonesia disesuaikan dengan angin musim . Apabila anging musim tidak
memungkinkan mereka untuk kembali, maka dalam waktu tertentu menetap di
Indonesia. Selama para pedagang India tersebut menetap di Indonesia,
memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Menurut
N.J.Krom, mulai dari sini pengaruh kebudayaan India menyebar dan menyerap dalam
kehidupan masyarakat Indonesia.
Namun, teori ini memiliki kelemahan, yaitu para pedagang yang termasuk
dalam kasta Waisya tidak menguasasi bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang
umumnya hanya dikuasi oleh kasta Brahmana. Namun bila menilik peninggalan
Prasasti yang dikeluarkan oleh negara-negara kerajaan Hindu-Budha di INdonesia,
sebagian besar menggunakan bahasa Sanskerta dan berhuruf pallwa. dengan
demikian, timbul pertanyaan" Munkinkah para pedagang India mampu membawa
pengaruh kebudayaan yang sangat tinggi ke Indonesia, sedangkan di daerahnnya
sediri kebudayaan tersebut milik kaum brahmana ?. " Selain itu, terdapat
kelemahan lain dalam hipotesis ini yaitu dengan melihat peta persebaran
kerajan-kerajan Hindu-Budha di Indonesia lebih banyak berada di daerah pesisr
di pantai.
b.Hipotesis Ksatria
Ada tiga ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai proses
penyebaran agama dan kebudayaan Hidnu-Budha dilakukan oleh golongan ksatria,
yaitu sebagai berikut.
1. C.C Berg
mengemukakan bahwa
golongan yang tuurut menyebarkan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonsia adalah
para petualang yangsebagian besar berasal dari golongan Ksatria . Para Ksatria
ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia.
Bantuan yang diberikan oleh para Kstaria ini sedikit banyak membantu
kemenanganbagi salah satu kelompok atau suku yang bertikai. Seagai hadiah atas
kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah seorang putri
dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinannya ini memudahkan bagi para
Ksatira untuk menyebarkan tadisi Hindu-Buddha dalam masyarakat indonesia.
2 Mookerji
Mengatakan bahwa golongan Ksatria (
tentara ) dari india yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha ke
Indonesia. Para Ksatria ini kemudian membangun koloni-koloni yang akhirnya
berkembang menjadi sebuah kerajaa. Para koloni ini kemudian mengadakan hubungan
perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di India dan mendatangkan para seniman
yang berasal dari India untuk membangun candi-candi di Indonesia.
3. J.L Moens
Dia mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajan di indonesia
pada awal abad ke-5 dengan situasi yang terjadi di india pada abad yang sama.
Perlu diketahui bahwa sekitar abad ke-5, banyak kerajaan-kerajaan di India
Selatan yang mengalami kehancuran. Ada di antara para keluarga kerajaan
tersebut, yaitu para Ksatrianya yanmelarikan diri ke Indonesia. Mereka ini
selanjutnya mendirikan kerajaan di kepulauan Nusantara. Kekuatan hipotesis
Ksatria terletak pada kenyataan bahwa semangat berpetualang pada itu umunya
dimilki olehpara Ksatria ( Keluarga kerajaan).
Sementara itu, kelemahan hipotesis yang dikemukakan oleh Berg,
Moens, dan Mookerji yang menekankan pada peran para
Ksatria India dalam proses masuknya kebudayaan India ke Indonesia terletak pada
hal-hal sebagai berikut, yaitu:
a) Para Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa;
b) Apabila daerah
Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan-kerajaan India,
tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti) yan menggambarkan penaklukkan
tersebut. Akan tetapi, balk di India maupun Indonesia tidak ditemukan prasasti
semacam itu. Adapun prasasti Tanjore yang menceritakan tentang penaklukkan
kerajaan Sriwijaya oleh salah satu kerajaan Cola di India, tidak dapat dipakal
sebagal bukti yang memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penakluk
tersebut terjadi pada abad ke-II sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harus
menunjukkan pada kurun waktu yang lebih awal.
c. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini menyatakan bahwa tradisi India yang menyebar ke Indonesia dibawa
oleh golongan Brahmana. Pendapat mi dikemukan oleh J.C.Van Leur. Berdasarkan
pada pengamatannya terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang
bercorak Hindu-Buddha di Indonesia, terutama pada prasasti-prasasti yang
menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa, maka sangat jelas itu adalah
pengaruh Brahmana. OIeh karena itu, dia berpendapat bahwa kaum Brahmanalah yang
menguasai bahasa dan huruf itu, sehingga pantasjika mereka yang memegang
peranan penting dalam proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di
Indonesia. Akan tetapi, bagaimana mungkin para Brahmana bisa sampai ke
Indonesia yang terpisahkan dengan India oleh lautan. Dalam tradisi agama Hindu terdapat
pantangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan, sehingga hal mi menjadi
kelemahan hipotesis ini.
2. Teori Arus Balik
Pendapat yang dikemukakan tersebut di
atas mendapat kritikan dan F.D.K Bosch. Adapun kritikan yang
dikemukakannya adalah sebagai berikut.
a. Berdasarkan pada peninggalan-peninggalan yang ada, tenyata teori
kolonisasi tidak mempunyai bukti yang kuat. Untuk hipotesis Waisya, tidak
terbukti bahwa kerajaan awal di Indonesia yang bercorak Hindu-Buddha ditemukan
di pesisir pantai, melainkan terletak di pedalaman. Kritikan untuk hipotesis
Ksatria, ternyata tidak ada prasasti yang menyatakan daerah atau kerajaan yang
ada di Indonesia pernah ditaklukkan atau dikuasai oleh para Ksatria dan India.
b. Bila ada perkawinan antara golongan Ksatnia dengan putri pribumi dan
Indonesia, seharusnya ada keturunan dan mereka yang ditemukan di Indonesia.
Pada kenyataannya, hal itu tidak ditemukan.
c. Dilihatdani hasil karya seni, terdapat perbedaan pembangunan antara
candi-candi yang dibangun di Indonesia dengan candi-candi yang dibangun di
India.
d. Kritikan yang lain adalah.dilihat darl sudut bahasa. Bahasa Sanskerta
hanya dikuasai oleh para Brahmana, tetapi kenapa bahasa yang digunakan oleh
masyarakat pada waktu itu adalah bahasa yang digunakan oleh kebanyakan orang
India.

F.D.K Bosch .
Selanjutnya, F.D.K
Bosch punya pendapat lain. Teori yang dikemukakan oleh Bosch ini
dikenal dengan teori Arus Balik. Menurut teori ini, yang pertama
kali datang ke Indonesia adalah mereka yang memiliki semangat untuk menyebarkan
Hindu-Buddha, yaitu para intelektual yang ikut menumpang kapal-kapal dagang.
Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruhnya
itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertanik untuk mengikuti ajarannya
tersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang Indonesia sendiri yang
pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Buddha di India.
Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya kepada masyarakat
Indonesia yang lain. Bukti-bukti darl pendapat tersebut adalah adanya prasasti
Nalanda yang menyebutkan bahwa Balaputradowa (raja Sriwijaya) telah
merninta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat
untuk menimba ilmu para tokoh dan Sriwijaya. Permintaan raja Sniwijaya itu
ternyata dikabulkan. Dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu
menuntut ilmu di sana, mereka kembali ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya
menyebarkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.
Sumber:http://www.artikelsiana.com/2014/08/teori-tentang-masuk-dan-berkembangnya.html#
2. Islam
Proses Awal
Penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia
Ada beberapa sumber sejarah mengenai masuknya
Islam ke Nusantara.
- Abad
ke-7 yang diberitakan dinasti Tang bahwa di Sriwijaya sudah ada
perkampungan muslim yang mengadakan hubungan dagang dengan Cina.
- Abad
ke-11 adanya makam Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 1028 di Leran, Gresik,
Jawa Timur.
- Abad
ke-13 tepatnya tahun 1292 Marcopolo mengunjungi Kerajaan Samudra Pasai.
Berdasarkan berita dari Marcopolo pada tahun 1292 dan
cerita dari Ibnu Batutah yang mengunjungi Kerajaan Samudra Pasai pada abad
ke-14, maka diperkirakan agama Islam sudah masuk di Indonesia sejak abad
ke-13. Di samping itu, batu nisan kubur Malik al Saleh yang meninggal
tahun 1297 juga memperkuat bukti-bukti bahwa pada saat itu telah
terdapat kerajaan Islam di Indonesia.
Ada beberapa pendapat mengenai asal mula Islam masuk
ke Nusantara.
- Islam
berasal dari Arab. Hal ini sesuai berita dari dinasti Tang, pedagang Arab
yang singgah di Sriwijaya untuk mengisi bahan bakar kemudian ke Cina.
- Islam
berasal dari Persia. Hal ini karena di Indonesia ada aliran tasawuf
seperti di Persia (Iran).
- Islam
berasal dari India (Gujarat) dengan alasan unsur Islam di Indonesia
menunjukkan kesamaan yang ada di India dan bentuk nisan Malik al
Saleh menyerupai bentuk batu nisan di India.
Selain itu, ada tokoh yang beralasan dari Gujarat.
Kelompok ini dipelopori oleh Snouck Hurgronje dan diikuti oleh J.P.
Moquute, R.A. Kern. Pendapat ini didasarkan pada:
- akibat
kemunduran dinasti Abbasiah Bagdad oleh Hulagu pada tahun 1258,
- berita
Marcopolo tahun 1292,
- berita
Ibnu Batutah pada abad ke-14,
- nisan
kubur Sultan Malik as Saleh yang berangka tahun awal Majapahit 1297,
- kedatangan
Islam hingga terbentuknya masyarakat muslim di Indonesia sejak
abad ke-13 berdasarkan pada ajaran tasawuf yang berasal dari Persia. Islam
menyebar di Indonesia melalui cara-cara berikut.
1. Melalui perdagangan
Pedagang-pedagang muslim yang berasal dari Arab,
Persia, dan India telah ikut ambil bagian dalam jalan lalu lintas
perdagangan yang menghubungkan Asia Barat, Asia Timur, dan Asia Tenggara,
pada abad ke-7 sampai abad ke-16. Para pedagang muslim yang akhirnya
juga singgah di Indonesia ini, ternyata tidak hanya semata-mata melakukan
kegiatan dagang.
Melalui hubungan perdagangan tersebut, agama dan
kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia. Pada abad kesembilan,
orang-orang Islam mulai bergerak mendirikan perkampungan Islam di Kedah
(Malaka), Aceh, dan Palembang. Pada akhir abad ke-12, kekuasaan politik
dan ekonomi Kerajaan Sriwijaya mulai merosot karena didesak oleh kekuasaan
Kertanegara dari Singasari. Seiring dengan kemunduran Sriwijaya, para pedagang
Islam beserta para mubalignya semakin giat melakukan peran politik
dalam mendukung daerah pantai yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan
Sriwijaya. Menjelang berakhirnya kerajaan Hindu-Buddha abad ke-13 berdiri
kerajaan kecil yang bercorak Islam, yaitu Samudra Pasai yang terletak di
pesisir timur laut wilayah Aceh. Kemudian pada awal abad ke-15 telah
berdiri Kerajaan Malaka. Sejak saat itu, Aceh dan Malaka berkembang
menjadi pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai dan banyak
dikunjungi oleh para pedagang Islam dan penduduk dari berbagai daerah
terjadi interaksi yang akhirnya banyak yang masuk Islam. Setelah pulang ke
daerah asal, mereka menyebarkan agama Islam ke daerahnya. Agama dan
kebudayaan Islam dari Malaka menyebar ke wilayah Sumatra Selatan, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Dalam suasana demikian, banyak raja
daerah dan adipati pesisir yang masuk Islam. Contohnya, Demak (abad
ke-15), Ternate (abad ke-15), Gowa (abad ke-16), dan Banjar (abad ke-16).
2. Melalui perkawinan
Para pedagang muslim yang datang di Indonesia, ada
sebagian di antara mereka yang kemudian menetap di kota-kota pelabuhan dan
membentuk perkampungan yang disebut Pekojan. Perkawinan antara putri
bangsawan dan pedagang muslim akhirnya berlangsung. Perkawinan ini dilakukan
secara Islam, yaitu dengan mengucapkan (menirukan) dua kalimat syahadat.
Upacara perkawinan berjalan dengan mudah karena tanpa pentasbihan atau
upacara-upacara yang panjang, lebar, dan mendalam. Dalam Babad Tanah Jawi,
misalnya, diceritakan perkawinan antara Maulana Iskhak dan putri Raja
Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri, sedangkan dalam Babad
Cirebon diceritakan perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati.
3. Melalui tasawuf
Tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur
dengan mistik dan hal-hal yang bersifat magis. Ahli-ahli tasawuf yang
memberikan ajaran yang mengandung persamaan alam pikiran seperti pada
mistik Indonesia–Hindu, antara lain, Hamzah Fansuri, Nuruddin ar Raniri,
dan Syeikh Siti Jenar.
4. Melalui pendidikan
Pendidikan dalam Islam dilakukan dalam pondok-pondok
pesantren yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, atau
ulama-ulama. Pesantren ini merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran
agama Islam karena merupakan tempat pembinaan calon guru-guru agama, kiai-kiai,
atau ulama-ulama. Setelah menamatkan pelajarannya di pesantren,
murid-murid (para santri) akan kembali ke kampung halamannya.
5. Melalui seni budaya
Dalam menyebarkan agama Islam, sebagian wali
menggunakan media seni budaya yang sudah ada dan disenangi masyarakat.
Pada perayaan hari keagamaan seperti Maulid Nabi, misalnya, seni tari dan
peralatan musik tradisional (gamelan) dipakai untuk meramaikan suasana.
Sunan Kalijaga yang sangat mahir memainkan wayang memanfaatkan kesenian
ini sebagai sarana untuk menyampaikan agama Islam kepada masyarakat,
yaitu memasukkan unsur-unsur Islam dalam cerita dan pertunjukannya.
Senjata Puntadewa yang bernama Jimat Kalimasada, misalnya, dihubungkan
dengan dua kalimat syahadat yang berisi pengakuan terhadap Allah dan Nabi
Muhammad. Masyarakat yang menyaksikan pertunjukan Sunan Kalijaga akhirnya
mengenal agama Islam dan tertarik ingin menjadikan Islam sebagai agamanya.
6. Melalui dakwah
Penyebaran Islam di Nusantara, terutama di Jawa,
sangat berkaitan dengan pengaruh para wali yang kita kenal dengan sebutan
wali sanga. Mereka inilah yang berperan paling besar dalam penyebaran
agama Islam melalui metode dakwah.
Kehidupan Masyarakat Indonesia Masa Islam
Masuknya Islam
berpengaruh besar pada masyarakat Indonesia. Kebudayaan Islam terus berkembang
sampai sekarang. Pengaruh kebudayaan Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia
antara lain pada bidang-bidang berikut.
a. Bidang Politik
Sebelum
Islam masuk Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang bercorak
Hindu-Buddha. Tetapi, setelah masuknya Islam, kerajaan-kerajaan yang bercorak
Hindu-Buddha mengalami keruntuhan dan digantikan peranannya oleh
kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka,
dan lainnya. Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar sultan
atau sunan seperti halnya para wali. Jika rajanya meninggal, tidak dimakamkan
di candi tetapi dimakamkan secara Islam.
b. Bidang
Sosial
Kebudayaan Islam tidak menerapkan
aturan kasta seperti kebudayaan Hindu. Pengaruh Islam yang berkembang pesat
membuat mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam. Hal ini menyebabkan
aturan kasta mulai pudar di masyarakat.
Nama-nama
Arab seperti Muhammad, Abdullah, Umar, Ali, Musa, Ibrahim, Hasan, Hamzah, dan
lainnya mulai digunakan. Kosakata bahasa Arab juga banyak digunakan, contohnya
rahmat, berkah (barokah), rezeki (rizki), kitab, ibadah, sejarah (syajaratun),
majelis (majlis), hikayat, mukadimah, dan masih banyak lagi.
Begitu pula dengan sistem
penanggalan. Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia
sudah mengenal kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai pada tahun 78 M.
Dalam kalender Saka ini, ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing,
pon, wage, dan kliwon. Setelah berkembangnya Islam, Sultan Agung dari Mataram
menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan
(komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).
c. Bidang
Pendidikan
Pendidikan Islam berkembang di
pesantren-pesanten Islam. Sebenarnya, pesantren telah berkembang sebelum Islam
masuk ke Indonesia. Pesantren saat itu menjadi tempat pendidikan dan pengajaran
agama Hindu. Setelah Islam masuk, mata pelajaran dan proses pendidikan
pesantren berubah menjadi pendidikan Islam.
Pesantren
adalah sebuah asrama tradisional pendidikan Islam. Siswa tinggal bersama untuk
belajar ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang disebut kiai. Asrama siswa
berada di dalam kompleks pesantren. Kiai juga tinggal di kompleks pesantren.
d. Bidang
Sastra dan Bahasa
Persebaran bahasa Arab lebih cepat
daripada persebaran bahasa Sanskerta karena dalam Islam tak ada pengkastaan.
Semua orang dari raja hingga rakyat jelata dapat mempelajari bahasa Arab. Pada
mulanya, memang hanya kaum bangsawan yang pandai menulis dan membaca huruf dan
bahasa Arab. Namun selanjutnya, rakyat kecil pun mampu membaca huruf Arab.
Penggunaan huruf Arab di Indonesia
pertama kali terlihat pada batu nisan di daerah Leran Gresik, yang diduga makam
salah seorang bangsawan Majapahit yang telah masuk Islam. Dalam
perkembangannya, pengaruh huruf dan bahasa Arab terlihat pada karya-karya
sastra. Bentuk karya sastra yang berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Islam
di antaranya sebagai berikut.
1.
Hikayat,
cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat
ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Contoh hikayat yang terkenal
adalah Hikayat Amir Hamzah.
2.
Babad,
kisah pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya
Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
3.
Suluk,
kitab yang membentangkan soal-soal tasawuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk
Wijil, Suluk Malang Sumirang, dan lainnya.
4.
Syair,
seperti Syair Abdul Muluk dan Gurindam Dua Belas.
e.
Bidang Arsitektur dan Kesenian
Islam telah memperkenalkan tradisi
baru dalam teknologi arsitektur seperti masjid dan istana. Ada perbedaan antara
masjid-masjid yang dibangun pada awal masuknya Islam ke Indonesia dan masjid
yang ada di Timur Tengah. Masjid di Indonesia tidak memiliki kubah di puncak
bangunan. Kubah digantikan dengan atap tumpang atau atap bersusun. Jumlah atap
tumpang itu selalu ganjil, tiga tingkat atau lima tingkat serupa dengan arsitektur
Hindu. Contohnya, Masjid Demak dan Masjid Banten.
Islam
juga memperkenalkan seni kaligrafi. Kaligrafi adalah seni menulis aksara indah
yang merupakan kata atau kalimat. Kaligrafi ada yang berwujud gambar binatang
atau manusia (hanya bentuk siluetnya). Ada pula yang berbentuk aksara yang
diperindah. Teks-teks dari Al-Quran merupakan tema yang sering dituangkan dalam
seni kaligrafi ini. Media yang sering digunakan adalah nisan makam, dinding
masjid, mihrab, kain tenunan, kayu, dan kertas sebagai pajangan.
Sumber: https://www.plengdut.com/kehidupan-masyarakat-indonesia-masa/219/
3.Modernisasi
Modernisasi
diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan
yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat
yang modern. Saat ini bangsa Indonesia sedang menggalakkan pembangunan dan
modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Pembangunan dan modernisasi pada dasarnya
diarahkan untuk menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik dibandingkan
dengan kondisi yang ada sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari tersedianya
berbagai macam fasilitas hidup, sarana dan prasarana yang baik sehingga
mendukung berbagai sektor kehidupan masyarakat, meningkatkan taraf hidup serta
meningkatkan martabat bangsa. Modernisasi yang dilakukan oleh bangsa Indonesia
mencakup bidang-bidang berikut ini.
1. Modernisasi di
Bidang Teknologi
Teknologi
tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kehidupan manusia, diawali dengan
penggunaan teknologi sederhana dan kemudian manusia mengembangkan teknologi
tersebut dengan menciptakan teknologi yang lebih maju. Gejala modernisasi di
bidang teknologi ditandai dengan perkembangan teknologi yang lebih maju dari
teknologi yang sudah ada sebelumnya. Adanya kemajuan dalam penggunaan teknologi
membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan memberikan hasil yang lebih banyak.
Masyarakat
Indonesia mulai mengembangkan berbagai macam teknologi untuk mempermudah
pekerjaan dan meningkatkan hasil produksi dari pekerjaan tersebut. Hal tersebut
tampak pada gambar di bawah ini.
·
Bagaimana proses modernisasi yang
terjadi pada kegiatan di atas? Proses modernisasi dalam bidang pertanian salah
satunya adalah penggunaan alat perontok padi bermesin.
·
Apa manfaat modernisasi yang terjadi
pada kegiatan di atas? Manfaat modernisasi pada kegiatan di atas adalah
pekerjaan menjadi cepat selesai dan lebih efisien.
·
Apa hubungan antara proses modernisasi
pada kegiatan di atas dan proses modernisasi teknologi di
Indonesia? Modernisasi teknologi di Indonesia dapat dilihat melalui
perkembangan penggunaan teknologi yang digunakan, dari teknologi sederhana,
teknologi menengah, dan teknologi canggih.
Penggunaan
teknologi modern dalam bidang pertanian tentunya tidak hanya pada kegiatan
merontokkan padi saja. Misalnya, penggunaan pupuk urea sebagai pengganti pupuk
kandang atau penggunaan traktor untuk menggantikan bajak yang ditarik oleh
kerbau. Modernisasi teknologi di Indonesia dapat dilihat melalui perkembangan
penggunaan teknologi yang digunakan, dari teknologi sederhana, teknologi
menengah, dan teknologi canggih.
1. Teknologi sederhana adalah jenis teknologi yang tidak
memerlukan keahlian khusus untuk mengoperasikannya, seperti gerobak, cangkul,
parang, dan tombak.
2. Teknologi menengah adalah jenis teknologi yang sudah mulai
memerlukan keahlian tertentu untuk mengoperasikannya, seperti mesin jahit,
sepeda motor, atau mesin penggiling padi.
3. Teknologi canggih adalah teknologi yang terdiri atas
banyak komponen dan memerlukan keahlian khusus untuk mengoperasikannya, seperti
komputer dan pesawat terbang.
2. Modernisasi di Bidang Ekonomi
Salah
satu gejala yang muncul dalam modernisasi ekonomi adalah terjadinya
industrialisasi. Industrialisasi merupakan proses pergantian dari penggunaan
tenaga manual menjadi penggunaan tenaga mesin. Industrialisasi merupakan salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan modernisasi di bidang ekonomi.
Modernisasi dan pembangunan di bidang ekonomi mempunyai satu tujuan, yaitu
mencapai kehidupan bangsa yang sejahtera.
Kesejahteraan
bangsa tidak hanya diukur dari tingginya pendapatan masyarakat dan pendapatan
negara. Tingginya pendapatan masyarakat masih harus diukur berdasarkan
pemerataan akan hasil-hasil pembangunan ekonomi bagi masyarakat secara adil.
Untuk itulah, diperlukan usaha-usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Agar
modernisasi bidang ekonomi di Indonesia idak tertinggal dengan negara lain.
No.
|
Modernisasi Ekonomi
|
Gejala Modernisasi yang Terjadi
|
1.
|
Sektor Pertanian
|
Menggunakan peralatan mekanis yang
sangat hemat tenaga kerja
|
2.
|
Sektor Industri
|
Pergantian dari penggunaan tenaga
manual menjadi penggunaan tenaga mesin
|
3.
|
Distribusi dan Penjualan
|
Penjualan secara online semakin marak
|
4.
|
Sektor Jasa
|
Proporsi ketenagakerjaan yang tinggi
di bidang jasa
|
5.
|
Pariwisata
|
Semakin beraneka ragamnya motif dan
keinginan wisatawan yang harus dipenuhi, sebagai akibat meningkatnya budaya
manusia.
|
Modernisasi
bidang ekonomi telah banyak dilakukan Indonesia. Misalnya, saja memanfaatkan
teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Upaya pemanfaatan teknologi ini
memunculkan pusat-pusat industri baik di bidang makro maupun mikro. Kemunculan
pusat-pusat industri mampu membawa perubahan pada proses produksi. Pemanfaatan
teknologi dalam sektor industri menggeser kedudukan tenaga manusia menjadi
tenaga mesin. Gejala pemanfaatan teknologi telah dilakukan di berbagai bidang.
Dalam bidang pertanian, misalnya, sebagai upaya meningkatkan produktivitas
padi, dilakukan penggantian pupuk kandang dengan pupuk urea, penerapan teknik
irigasi baru, penggunaan varietas bibit padi jenis baru, dan sebagainya.
3.
Modernisasi di Bidang Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan
Pembangunan
di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan ditujukan untuk mengejar
ketertinggalan bangsa dari laju pertumbuhan bangsa lain. Pembangunan di bidang
ilmu pengetahuan dan pendidikan akan mendukung peningkatan kemampuan sumber
daya manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing. Sumber daya manusia yang
berkualitas dapat mendorong lebih cepat lajunya modernisasi dan perubahan
sosial budaya. Salah satu cara untuk mewujudkan pembentukan sumber daya manusia
berkualitas adalah didirikannya lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dengan
berbagai macam penelitiannya.
·
Apa yang dimaksud dengan ilmu
pengetahuan dan pendidikan? Ilmu pengetahuan merupakan usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi
kenyataan dalam alam manusia. Sementara pendidikan diartikan sebagai usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya utuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
·
Apakah tujuan dari modernisasi ilmu
pengetahuan dan pendidikan? Ilmu pengetahuan dan pendidikan merupakan salah
satu jalan untuk mengubah pola pikir masyarakat dari tradisional ke pola
pemikiran yang lebih modern.
·
Bagaimana gejala modernisasi dalam
bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia? Pendidikan menjadi lebih
komprehensif, lebih mudah di akses, sarana dan prasarana lebih memadai,
teknologi sungguh sangat membantu dalam perkembangan inteligensi, pembaharuan
dan kemajuan pada ranah yang lebih menjurus lagi.
·
Apa saja contoh modernisasi dalam bidang
ilmu pengetahuan dan pendidikan yang terjadi di Indonesia? Gejala
modernisasi di Indonesia pada bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan salah
satunya ditandai dengan banyaknya penelitian yang menghasilkan berbagai macam
cara dan metode sebagai usaha untuk kemajuan pendidikan. Selain itu, gejala
modernisasi juga tampak pada digunakannya teknologi dan infrastruktur modern
sebagai sarana penunjang pendidikan.Teknologi dan infrastruktur pendidikan pada
masa kini inilah yang menjadikan modernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan
pendidikan berlangsung lebih cepat, seperti adanya laboratorium yang lengkap,
buku sekolah elektronik, library online, mesin pencari data di internet,
komputerisasi data pendidikan, sistem pendidikan, kurikulum, metode
pembelajaran, diselenggarakannya kuliah online.
Diterapkannya cara baru dalam aktivitas belajar dan sumber belajar dengan memanfaatkan teknologi. Penemuan dan pembaharuan dari hasil penelitian yang dilakukan serta diterapkannya teknologi modern dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan memunculkan cara baru dalam cara belajar dan cara mengajar menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam proses modernisasi di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan, sebaiknya sarana dan prasarana untuk kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di berbagai lembaga penelitian dan pendidikan perlu didayagunakan dan ditingkatkan. Hal tersebut bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan di zamannya serta dapat meningkatkan kemampuan produktivitas bangsa dalam penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan, pendidikan, maupun teknologi.
4. Modernisasi di Bidang Komunikasi, Informasi, dan Transportasi
Perkembangan alat komunikasi dan informasi sebagai gejala modernisasi tampak nyata. Bermunculan berbagai penemuan baru, inovasi, dan pembaharuan terhadap berbagai alat komunikasi dan informasi. Inovasi, pembaharuan, dan penemuan baru yang terjadi membawa perubahan pada penggunaan teknologi komunikasi, informasi dan transportasi dari tradisional ke modern.
Penggunaan alat komunikasi yang semakin beragam, semakin mudah dan kompleksnya informasi yang diperoleh dari media elektronik serta transportasi modern yang digunakan masyarakat untuk melakukan mobilitas merupakan alasan manusia melakukan modernisasi dalam bidang ini.
·
Modernisasi pada bidang komunikasi
banyak kita jumpai di sekitar kita. Interaksi antara satu orang dengan orang
yang lain saat ini tidak harus dilakukan secara tatap muka karena banyak media
yang dapat digunakan untuk berkomunikasi. Misalnya saja melalui handphone,
faksmile, instant messanger, e-mail, smartphone, video call dan sebagainya,
Selain untuk berkomunikasi, media-media tersebut juga dapat digunakan untuk
mengakses informasi dengan cepat, mudah, dan efisien.
·
Bidang transportasi gejala modernisasi
juga tampak pada pemanfaatan jaringan internet untuk pemesanan tiket
transportasi secara on line. Kegiatan tersebut berkaitan dengan perubahan cara
pembelian tiket tradisional ke modern. Selain itu penggunaan alat transportasi
modern sebagai pengganti alat transportasi tradisional saat ini banyak dipilih
masyarakat sehingga lebih efektif dan efisien. Kemudahan dalam berbagai hal
adalah salah satu manfaat dari modernisasi dalam bidang informasi, komunikasi,
dan transportasi.
5. Modernisasi Bidang Politik dan Ideologi
Sistem perwakilan rakyat dalam pemerintahan dapat disebut sebagai salah satu hasil modernisasi yang memengaruhi perubahan sosial budaya dalam masyarakat.
·
Kehidupan politik erat kaitannya dengan
proses yang melibatkan kenegaraan dan ketatanegaraan, di antaranya meliputi
lembaga-lembaga negara, dasar pemerintahan, sistem pemerintahan,
penyelenggaraan pemilihan umum.
·
Ideologi merupakan rangkaian konsep
suatu cita-cita yang diemban dan diidam-idamkan oleh suatu kelompok/ golongan,
gerakan massa, dan negara. Ideologi bermakna sebagai kumpulan konsep bersistem
yang dijadikan asas pendapat untuk memberikan arah dan tujuan demi kelangsungan
hidup.
Modernisasi politik dan ideologi yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia dapat berperan penting dalam proses modernisasi secara total di berbagai bidang kehidupan dengan dipicu modernisasi bidang ekonomi dan sosial. Gejala modernisasi politik dan ideologi di Indonesia banyak ditandai oleh berbagai sikap politik masyarakat yang mulai mengesampingkan sikap primordial, kesukuan, kedaerahan, dan sejenisnya atau juga pemilihan kepemimpinan berdasarkan prestasi. Gejala modernisasi dalam bidang ini juga dapat dilihat dari munculnya birokrasi dan administrasi pemerintahan yang memanfaatkan berbagai teknologi, informasi, dan komunikasi modern.
6. Modernisasi di Bidang Keagamaan
Pada zaman prasejarah di mana agama belum hadir dalam kehidupan manusia, kepercayaan terhadap animisme, dinamisme, totemisme, dan sebagainya telah melekat pada diri masyarakat Indonesia. Setelah agama masuk ke Indonesia kepercayaan lama yang dianut oleh mereka ternyata tidak hilang, sehingga terjadi percampuran antara agama dan kepecayaan. Mereka menganut agama namun tetap percaya pada animisme, dinamisme, dan sebagainya.
Modernisasi bidang keagamaan dapat diartikan sebagai perubahan kehidupan keagamaan dan kepercayaan yang mampu memegang keseimbangan antara nilai keagamaan dan kemajuan. Modernisasi keagamaan sebaiknya lebih ditekankan pada pembentukan dan pembinaan kehidupan beragama yang penuh toleransi, beriman dan bertakwa sehingga akan tercipta kehidupan masyarakat yang rukun, stabil, dan mampu menyelaraskan antara kehidupan agama dan duniawi.
Gejala modernisasi dalam bidang keagamaan terjadi di antaranya karena didorong oleh meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat dan berkembangnya penggunaan media informasi dan komunikasi modern. Modernisasi dalam bidang keagamaan yang terjadi di Indonesia harus memperhatikan hal-hal berikut.
·
pembinaan yang bersifat intern, seperti
pendalaman dan pengamalan ajaran agama, pembinaan hubungan antarumat di
lingkungan agama, dan sejenisnya,
·
pembinaan yang bersifat ekstern, yakni
yang menyangkut hubungan antara umat beragama yang satu dan umat beragama yang lain
dan sekaligus pembinaan hubungan antara setiap umat beragama dan pemerintah.
Gejala modernisasi bidang keagamaan di Indonesia di antaranya adalah munculnya berbagai perpaduan antara unsur agama dan teknologi modern. Misalnya, berdirinya pesantren modern yang memadukan pendidikan dan agama sesuai dengan kondisi zaman, ada dan ditemukannya kitab suci elektronik yang memudahkan para pemeluk agama dalam membaca kitab suci, cara belajar kitab suci yang dipandu dengan media dan teknologi, penceramah/ pendakwah/penyebar agama yang menggunakan media untuk menyampaikan ajaran agamanya, dan masih banyak lagi.
Sumber: http://www.mikirbae.com/2015/11/modernisasi-di-indonesia.html
DAFTAR PUSTAKA
- http://www.artikelsiana.com/2014/08/teori-tentang-masuk-dan-berkembangnya.html#
- http://www.pengertiansejarah.com/proses-awal-penyebaran-islam-di-kepulauan-indonesia.html
- https://www.plengdut.com/kehidupan-masyarakat-indonesia-masa/219/
- http://www.mikirbae.com/2015/11/modernisasi-di-indonesia.html

Komentar
Posting Komentar